Penciptaan
lapangan kerja sebagai suatu program adalah dengan harapan agar setiap orang
bisa bekerja. Bekerja
adalah sunatullah, yang
wajib kita tunaikan, yang merupakan perintah Allah SWT, Tuhan Pencipta manusia
dan alam seisinya. Kehadiran manusia di dunia tidak hanya bertujuan untuk
menyembah Allah atau beribadah kepada-Nya, tetapi juga harus bekerja untuk
memakmurkan dunia. Bekerja untuk memakmurkan dunia dan seisinya adalah perintah
Sang Pencipta alam dan manusia, Allah SWT.
Allah SWT sendiri sebagai
Pencipta Dunia dan seisinya, adalah Tuhan yang telah meneguhkan pentingnya
bekerja keras, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, Al-Qur’anul Karim:
”Allah
tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahahidup yang senantiasa terus-menerus
dalam kesibukan mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur.
Milik-Nya yang ada di langit dan yang ada di bumi” (QS. Al-Baqarah [2]: 255).
”Dan
sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara
keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (QS.
Qaaf [50]: 38).
Allah SWT,
Tuhan manusia, senantiasa bekerja mengurusi kepentingan seluruh makhluk-Nya dan
tidak pernah berhenti istirahat karena mengantuk atau tidur. Karena itu, kepada
manusia yang telah ditempatkan di bumi sebagai makhluk, hamba dan khalifah-Nya,
diwajibkan untuk berbuat yang sama dengan Tuhannya, yaitu bekerja. “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu
sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber
penghidupan)” (QS. Al-A’Raaf [7]: 10).
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah)
dan menjadikan kamu pemakmurnya .....” (QS.
Huud [11]: 61).
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi sesudah (Allah) memperbaikinya” (QS. Al-A’Raaf [7]: 56).
“Janganlah kamu berkeliaran di muka bumi
berbuat kerusakaan” (QS.
Al-Ankabut [29]: 36).
“Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan” (QS. Al-Maidah [5]: 64).
Namun, Tuhan tidak memaksa
manusia untuk bekerja secara terus-menerus selama 24 jam, tetapi kepada manusia
diberi kesempatan untuk istirahat sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat
berikut ini:
”Dan
Dia yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu
kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk
disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan” (QS. Al-An’aam [6]: 60).
”Dan
Dia-lah yang menjadikan malam untukmu sebagai pakaian, dan tidur untuk
istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha” (QS. Al-Furqan
[25]: 47).
”Dan
adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu
beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya pada
siang hari dan agar kamu bersyukur kepada-Nya” (QS. Al-Qashash [28]: 73).
”Dan
Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An-Naba [78]: 9).
Dengan demikian, jabatan atau
tugas apapun yang dilaksanakan dalam bekerja bukanlah berasal dari manusia
apakah itu Presiden, Wakil Presiden, Menteri, pejabat tinggi negara yang lain,
atasan atau bosnya, tetapi adalah karena pengaturan Allah SWT. Sejumlah surat
dan ayat dalam kitab suci Al-Qur’an telah menjelaskan mengenai perintah Tuhan
bagi manusia untuk bekerja sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat berikut ini:
”Maka
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” (QS. Al-Baqarah [2]: 68).
”Dan
kerjakanlah amal yang baik untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah” (QS.
Al-Baqarah [2]: 223).
”Bekerjalah
wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” (QS. Saba [34]: 13).
(Selanjutnya lihat buku: ”Sistem Jaminan Sosial Nasional, Pilar Penyangga Kemandirian
Perekonomian Bangsa”, karya Achmad Subianto, 2010, Rp75.000,-)
Hubungi Kami melalui Kontak Email:
penerbitbukugibon@gmail.com atau gibongroup_books@yahoo.com